Senin, 05 Mei 2014

DUA MEI

Ketika pagi harus pergi dalam hujan.
Menembusnya demi sebuah berdiri
Mengikuti peringatan tentang "pendidikan"
Badan meriam, virus menyebar dalam tubuh
peluh keluar dari pori-pori yang dingin
Namun, inilah belajar ketulusan.

Lepas itu, kami membuat janji baru
Dalam papan-papan rumah
bersekat dinding biru
Dalam remah kue berasa kapucino dan buliran coklat meises

Dalam peluh, kami masih bisa tertawa.
Menyanyikan lagu yang hanya dia dan aku yang bisa mendengar.
Menjelang maghrib, menghormati senja
Dalam dzikir memuliakanNya.
Nikmat manakah yang engkau dustakan?

Medan 5 Mei, Senin 2014 untuk mengenang DUA MEI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar