Rabu, 30 April 2014

KATAKAN YA, UNTUK BANDA ACEH

Bungong jeumpa, bungong jeumpa meugah di aceh …
Bungong teuleubeh-teuleubeh indah lagoina
Bungong jeumpa, bungong jeumpa meugah di aceh …
Bungong teuleubeh-teuleubeh indah lagoina

Puteh kuneng , meujampu mirah
Bungong si ulah indah lagoina
Puteh kuneng , meujampu mirah
Bungong si ulah indah lagoina

Lam sinar buleun, lam sinar buleun angen peu ayon ...
Duroh meususon , meususon yang mala mala
Mangat that mubee , meunyo tatem com
Leumpah that harom si bungong jeuma
Mangat that mubee , meunyo tatem com
Leumpah that harom si bungong jeuma

Senandung lagu itu masih terngiang di telingaku sampai sekarang. Pertama sekali lagu itu kudengar dinyanyikan oleh teman sebangkuku di MTs tahun 2002 silam, Maulidyana. Diana, begitulah aku memanggilnya. “Kau tahu Sarah? Aceh itu sangat indah. Walaupun aku terlahir sebagai orang Jawa. Aku begitu mencintai Aceh. Kami sekeluarga harus meninggalkan Aceh dan akhirnya menetap di kota ini, kembali ke Medan. Padahal di Aceh kami sudah hidup lumayan, serba kecukupan namun apa daya. Kami diusir meninggalkan tanah yang indah itu. Aku masih ingat betul, bagaimana bunyi suara senapan dan orang yang berteriak ketakutan, termasuk aku. Aku, kakak, adik dan kedua orangtuaku berlari ke tempat yang lebih aman untuk menghindari GAM. Nanti, kalau Aceh sudah aman seperti semula aku kenal, kami berjanji akan ke sana lagi. Sarah harus pergi ke sana dan melihat bagaimana Aceh ya.” Cerita Diana sambil meneteskan air mata di bangku sekolah dalam kelas.

Aceh, dahulu aku mengenalnya sebagai Daerah Istimewa Aceh. DI Aceh dengan ibukota Banda Aceh. Namun, namanya berubah menjadi Nangroe Aceh Darussalam pada tahun 1999-2001. Pada tahun 2001 berubah nama lagi menjadi Aceh sampai sekarang. Aku banyak mengetahui Aceh dari cerita Diana, temen sebangkuku waktu duduk di kelas 1 MTs. Diana sendiri sekarang menetap di kota Medan bersama suami. Dari lama, aku ingin sekali pergi ke Aceh namun keinginan itu harus tertunda bertahun-tahun. Sampai akhirnya, Februari  tahun 2014 ini. Aku bisa menjejak juga di bumi Darussalam. "Diana, akhirnya aku bisa ke Aceh." ujarku dalam hati.

Aku dan tiga orang temanku pergi ke Aceh dengan menggunakan Bus Simpati STAR dari kota Medan. Kami berangkat tanggal 29 februari pukul 20.00 WIB. Dengan harga tiket 150 rupiah. Supir bus pun berjanji akan mengantarkan kami sampai ke Pelabuhan Ulee Lheue. Karena rencana dari awal kami adalah Sabang maka kami langsung menuju ke Pelabuhan untuk menyebrang tanpa jalan-jalan mengelilingi kota Banda Aceh terlebih dahulu. Kami akan mengelilingi kota Banda Aceh selepas dari Sabang.

Mentari mulai terbit, langit Aceh bercahaya dan hangat. Pukul setengah delapan pagi kamipun sampai di Banda Aceh. Kota itu terlihat begitu teduh dan cantik. Anak-anak sekolah sudah mulai berpakaian rapi, para pekerja sudah sibuk memenuhi jalan agar cepat-cepat sampai di kantornya masing-masing. Cerita Diana benar, bahwa Aceh sungguhlah indah. Kami hanya melewati kota ini sejenak, belum bisa bercengkrama lebih erat lagi, karena tujuan kami adalah langsung ke pelabuhan Ulee Lheue. Sesampainya di pelabuhan, aku segera menuju loket untuk membeli tiket kapal. Di  ruang tunggu pelabuhan, kami tak sengaja di sapa salah seorang bapak dengan seranggam dinasnya. "Mau ke Sabang" tanyanya. "Iya Pak, jawabku" Dia memperkenalkan diri sebagai kepala Pelabuhan Ulee Lheue tanpa dimintai keterangan, beliau menjelaskan sejarah pelabuhan ini dan jadwal keberangkatan kapal. Aku membeli tiket kapal express dengan jadwal keberangkatan pukul 9.30 WIB dan sampai di Sabang pukul 10.15 WIB. Sebelum berangkat, aku dan teman-teman membeli nasi dengan lauk ayam di kantin dekat pelabuhan untuk sarapan. Selesai sarapan, kamipun bersiap-siap untuk menyebrang ke pulau Sabang.


 Pelabuhan Ulee Lheue

Mengobrol bersama Pak Ampon (Kepala Pelabuhan Ulee Lheue)

Di kapal, aku melihat hamparan air laut yang biru. Sangat indah sekali, sinar mentari mengenai air laut ibarat permata yang bercahaya. Ini Aceh, tempat yang sangat indah sekali dan tetiba senandung lagu bungong jeumpa dari Diana mengalun kudengar di telinga. Ya, aku meneteskan air mata. “Akhirnya, aku sampai di sini Diana. Di negeri indah yang engkau ceritakan” batinku.

Pukul 10.15 WIB, kamipun sampai di Sabang. Kami belum tahu harus menuju ke mana. Menurut cerita seorang teman di dekat pelabuhan ini akan banyak jasa mobil carteran yang akan membawa kita kemanapun di Sabang ini. Setelah berjalan meninggalkan pelabuhan. Ada seorang bapak, pak Bidin namanya menawarkan mobilnya untuk kami sewa. Entah mengapa tak lama kemudian dengan tawar menawar sebentar, akhirnya kami memilih pak Bidin sebagai supir kami selama di Sabang. Pak Bidin membawa kami ke penginapan di tengah kota Sabang. Selain menjadi supir ternyata dia menjadi guide kami selama di perjalanan ini. Ibarat seorang Ayah yang menjelaskan kepada anak-anaknya yang mempunyai rasa ingin tahu pada kota ini. Setelah menemukan penginapan yang nyaman, kamipun istirahat sebentar. Pak Bidin berjanji kepada kami, jam 2 siang beliau akan datang kembali untuk membawa kami keliling Sabang. Jam 2 tepat kami dan Pak Bidin mengelilingi kota Sabang dengan pantai-pantainya yang sangat indah sekali dan danau-danau yang cantik. Dari Pantai Sumut Tiga, Pantai Kasih, Pantai Tapak Gajah dan pantai-pantai lainnya yang sangat indah sekali. Setelah mengitari pantai, kamipun ingin melihat sunset di Pantai Anoi Itam. Selesai melihat sunset, kamipun bergegas menuju penginapan kembali untuk menunaikan shalat Maghrib dan bersih-bersih. Pada malam harinya, aku dan teman-teman pergi ke kota untuk melihat suasana kota di malam hari. Pak Bidin sendiri berjanji akan membawa kami jalan-jalan mengeliling Sabang lagi keesokan harinya. Jam 7 pagi, ia berjanji akan datang kembali ke penginapan.
 Pantai Sumur Tiga

 Pantai Sumur Tiga dengan Batu Karangnya

 Pantai di Gua Jepang



Jam 07.00 WIB, Pak Bidin membawa kami ke titik 0 km Indonesia. Sebelum sampai ke titik 0 km, Pak Bidin membawa kami ke Pantai Gapang. Pantainya sangat indah sekali dengan hamparan pasir putih, air laut yang hijau tosca dan pohon-pohon kelapa yang nyiur melambai. Setelah puas bermain ombak di Pantai Gapang, pak Bidin membawa kami ke titik 0 km. Di titik km ini, kami bisa memfoto dengan latar belakang samudera Hindia yang sangat dalam dan luas. Di titik 0 km ini, selesai puas berfoto kami menyempatkan memakan kelapa bakar dan pisang goreng yang enak sekali.  Setelah makan, dari titik 0 km kemudian pak Bidin akan membawa kami ke pantai iboih. Melewati jalan yang agak mendaki dan terdapat hutan di kanan kiri jalan kamipun menuju Iboih. Sesampainya di sana. Kamipun berencana menyebrang ke Pulau Rubiah untuk snorkeling. Dengan menyewa kapal, kamipun meninggalkan pantai Iboih untuk menuju Pulau Rubiah. Sesampainya di Pulau Rubiah, kamipun bersegera menggunakan peralatan menyelam yang kami sewa di pantai Iboih tadi. Bermain dengan ikan-ikan yang cantik adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Inilah sepotong syurga di Indonesia dan terletak di bumi Aceh. Aceh sangat  indah sekali.  Setelah puas bersnorkeling, kamipun bergegas kembali ke Pantai Iboih dan kembali ke penginapan. Sesampainya di penginapan, kamipun beristirahat. Selepas shalat Isya kamipun pergi ke kota untuk mencicipi kuliner khas kota Sabang. Dari sate gurita, bebek bireun dan makanan lainnya. Selesai puas berwisata kuliner, kamipun bergegas ke penginapan. Malam ini adalah malam terakhir di Sabang dan esok pagi kami akan kembali menuju kota Banda Aceh.

Pantai Iboih 




Pukul 07.00 WIB, kami check out dari penginapan dan pak Bidin membawa kami menuju pelabuhan untuk meninggalkan Sabang. Sebelum meninggalkan kota yang indah ini, kami berpamitan kepada pak Bidin yang sudah seperti Ayah angkat bagi kami. Sedih rasanya untuk meninggalkan kota ini, aku berjanji aku akan kembali lagi ke kota yang penuh pesona ini. Kamipun menuju kapal yang besar dan siap-siap berlayar menuju Pelabuhan Ulee Lheue kembali untuk jalan-jalan di kota Banda Aceh. Di atas kapal. Aku sangat menikmati laut yang bersinar terkena cahaya matahari yang bergerak semu semakin meninggi. Sekitar Jam 11.00 WIB, kami sampai di Pelabuhan Ulee Lheue. Dari Pelabuhan Ulee Lheue, kami sudah menyewa mobil untuk membawa kami mengitari kota Banda Aceh, kota Madani. Kami harus memanfaatkan 8 jam tersisa karena malam ini  juga kami akan pulang ke kota Medan.


                                                                  Fajar di Banda Aceh

Sebelum mengitari kota Banda Aceh, kami mampir ke rumah makan khas aceh untuk makan siang. Gulai kepala ikan dan Pliek U adalah makanan khas yang mempunya cita rasa tinggi. Selain itu kami juga memesan secangkir kopi hangat khas Aceh yang sangat harum sekali. Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju wisata kapal Apung di pusat kota, setelah berjalan-jalan di sekitar kapal apung kamipun menuju Museum Tsunami yang sangat indah sekali dalam segi arsitekturnya. Ridwan Kamil, sang arsitektur begitu jenius membuat rancangan yang luar biasa indahnya untuk mengenang korban tsunami tahun 2004 silam. Museum ini menjadi saksi bagaimana kuasa Tuhan jika ia sudah berkehendak. Al Fatihah....


PLTD Apung di Banda Aceh


Museum Tsunami Banda Aceh

Selesai di Museum, kami pun menuju Mesjid Baiturrahman. Mesjid kebanggaan orang Aceh. Mesjid yang sangat terkenal dengan keindahannya sampai ke Asia Tenggara. Hatiku tiba-tiba teduh, melihat kubah hitam dan dinding putih yang seolah bercahaya mengenai mataku. Sayang hari ini aku lagi menstruasi dan tidak bisa menjalankan shalat di dalam mesjid. Aku hanya bisa memandang ornamen mesjid dari luar dan berjalan ke sisi kolam dan menara gagah di sekitar mesjid. Banyak sekali orang yang berkunjung ke sini. Tidak  hanya orang Aceh atau turis dalam negeri namun telihat juga ada beberapa wisatawan asing. Mesjid ini juga menjadi saksi bagaimana musibah tsunami yang begitu dahsyat menimpa kota Banda Aceh. Mesjid ini tetap kokoh berdiri meskipun dahsyatnya berliter-liter aliran air laut karena tsunami. Selesai melihat keindahan Mesjid Baiturrahman kamipun menuju Pantai Lhok Nga.


Mesjid Baiturrahman


Pantai di Aceh

Pak supir membawa kami menuju Pantai Lhok Nga, di pantai inilah tsunamipun memporak porandakan kehidupan sekitar pantai. Di Pantai ini garis pantainya sangat panjang, hamparan pasirnya sangat bersih, di pantai ini aku menikmati air kelapa yang sangat manis dan segar sekali. Kami meikmati pantai Lhok Nga sampai jam 4 sore. Selesai menikamti indahnya pantai Lhok Nga dan asyik berfoto-foto, kami akan melanjutkan perjalanan menuju ke Pantai Lampuuk. Kamipun bergegas menuju pantai Lampuuk, sebelum sampai di pantai Lampuuk, pak supir membawa kami ke rumah Cut  Nyak Dien, rumah adat Aceh ini. Selesai melihat rumah yang kaya akan bersejarah ini, kamipun melanjutkan perjalanan ke pantai Lampuuk untuk melihat sunset di sana. Ternyata Pantai Lampuuk juga tidak kalah indah dengan pantai Lhok Nga. Di sini kami menikmati pantai yang sangat indah, pantai biru sangatlah sulit untuk ditemui di kota kami, Medan. Di Aceh kami sangat senang meihat birunya air laut yang jernih, pasir yang putih, ombak yang gemulai dan angin sepoi khas pantai.Pantai-pantai yang ada di Nangroe Aceh Durussalam pastilah tidak pernah kami lupakan. Semua pantainya indah. Puas menikmati sunset, kamipun bergegas meninggalkan pantai dan menuju terminal. Rasa sedih di hati, karena harus meninggalkan kota ini dengan cepat. Seharipun belum kami mengelilingi Banda Aceh namun kami harus segera meninggalkannya. Sesampainya di terminal, kamipun membeli tiket bus untuk keberangkatan menuju kota Medan, rumah kami. Jam 20.00 WIB, bus pun memulai perjalanannya menuju kota Medan. Kami pulang dan Aceh menjadi memori yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidupku. Dan ketika aku melihat langit Aceh yang penuh bintang itu, senandung Diana menemaniku meninggalkan kota ini dengan pesnuh pesona dan cinta. Izinkan aku kembali ke kota ini, ya Allaah. Aamiin

Bungong jeumpa, bungong jeumpa meugah di aceh …
Bungong teuleubeh-teuleubeh indah lagoina
Bungong jeumpa, bungong jeumpa meugah di aceh …
Bungong teuleubeh-teuleubeh indah lagoina

Puteh kuneng , meujampu mirah
Bungong si ulah indah lagoina
Puteh kuneng , meujampu mirah
Bungong si ulah indah lagoina

Lam sinar buleun, lam sinar buleun angen peu ayon ...
Duroh meususon , meususon yang mala mala
Mangat that mubee , meunyo tatem com
Leumpah that harom si bungong jeuma
Mangat that mubee , meunyo tatem com
Leumpah that harom si bungong jeuma


   Medan, 30 April 2014
-Sarah yang mencintai Aceh-





6 komentar:

  1. pantainya itu gak ada duanya... keren juga foto2nya :D
    mampir jgua ya kemari mhdharis.wordpress.com/2014/04/27/banda-aceh-punya-situs-objek-wisata-tsunami-yang-wajib-dikunjungi/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bang Haris :) keren tulisannya Bang. Mantab kali

      Hapus
  2. Tulisan yang menarik. Info tentang Wisata Aceh disini juga ada : http://acehplanet.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Ok Aceh Planet. Websitenya keren :D

      Hapus
  3. Sebagai perantuan, membaca tulisan ini membangkitkan lagi banyak kenangan. Membuat rindu pada tanah Aceh. Beberapa tempat yang Sarah ceritakan, pernah ibnu kunjungi. Bahkan, ada tempat yang bagi Ibnu sangat emosional, yaitu kapal apung. Sebab di sana, tak jauh dari rumah Almarhum kakak yang jadi korban tsunami.

    Ya, bagi Ibnu tulisan ini, lebih dari sekadar perekam jejak :)

    BalasHapus
  4. Undangan Menjadi Peserta Lomba Review Website berhadiah 30 Juta.

    Selamat Siang, setelah kami memperhatikan kualitas tulisan di Blog ini.
    Kami akan senang sekali, jika Blog ini berkenan mengikuti Lomba review
    Websitedari babastudio.

    Untuk Lebih jelas dan detail mohon kunjungi http://www.babastudio.com/review2014


    Salam
    Baba Studio

    BalasHapus