Kamis, 31 Januari 2013

Lidah dan Kesehatan



Oleh Maysarah Bakri

Beberapa hari yang lalu, seorang temanku mentag sebuah postingan di jejaring sosial facebook, tentang keluhan lidahnya yang berasa pahit, lidahnya berwarna putih dan warna putihnya agak tebal. Alhasil dia tidak nafsu makan karena lidahnya terasa sangat pahit. Entah kenapa beliau me mention namaku untuk dimintai pendapat tentang lidahnya yang seperti itu dan dimintai tips. Lah aku bukan dokter hehhe. Namun membaca postingannya, aku jadi ingat pelajaran waktu kuliah dahulu, tentang Mikrobiologi Medis, pada lidah bisa terjadi Candidiasis yang disebabkan oleh kapang Candida albicans ataupun Candida Sp lainnya yang tumbuh di lidah kita atau disebabkan oleh jenis kapang lainnya.

Pertama, untuk mengomentari postingannya tersebut, aku menjawab berdasarkan pengalaman pribadiku yaitu dengan mencicip garam secumit (istilahnya bener gak a? ga tahu dehehehe) Lalu diletakkan di atas permukaan lidah. Biasanya kalau aku mencicip garam maka lidah yang berasa pahit akan hilang. Jika tak selera makan juga akan tambah semangat makan. Mencicip garam sebelum dan sesudah makan itu sudah menjadi kebiasaanku sekarang. Alhamdulillaah badanku semakin fit. Kemanapun aku pergi aku akan selalu membawa kotak garam dalam tasku. Baru-baru ini, aku merasa garam is my doping. Selama perjalanan 3 hari ke Riau dan 8 hari ke Padang berturut-turut dengan garam, aku selalu fit selama perjalanan. Padahal perjalanan ke Padang terkenal  dengan jalannya yang berkelok-kelok (ampun dah) yang mengocok isi perut dan perasaan mau muntah sajo. Biasanya aku memakan obat anti mual, antimo (ga papa deh sebut merek ya) tapi alhasil aku selalu tertidur dan ini tidak menyenangkan sekali karena pastinya aku tidak akan menikmati pemandangan selama perjalanan, tidur nyenyak euy bak sleeping beauty hihhihi.

Perjalanan akhir Desember lalu dan berakhir di awal Januari  2013 sangat-sangat begitu menyenangkan karena aku bisa menikmati setiap pemandangan  selama di dalam mobil. Waktu itu, aku tak memakan antimo. Aku hanya memakan garam. Jika mulutku sudah terasa pahit. Maka aku akan mengambil garam seiprit dan meletakkannya di atas lidah dan kukecap perlahan. Alhamdulillaah segeran. Hehhe. Dan ga pernah muntah selama perjalanan.
Mengikuti cara Rasulullaah sebelum makan beliau akan mengambil sedikit garam menggunakan jari kecilnya, lalu Rasullaah akan mencicipi garam itu. Kemudian barulah Rasulullaah makan makanan tersebut. Mengapa?
Karena kedua belah tangan kita akan mengeluarkan 3 macam enzim, tetapi konsentrasi di tangan kanan kurang sedikit dari yang kiri. Ini adalah karena enzim yang ada di tangan kanan itu merupakan enzim yang dapat membantu proses pencernaan (dygestion).
Mengapa memakan garam?
Karena garam adalah sumber mineral dari tanah yang diperlukan oleh tubuh kita. Dua jumput garam dari jari kita itu adalah sama dengan satu liter air mineral. Kita berasal dari tanah maka lumrahnya bahan yang berasal dari bumi (tanah) inilah yang paling berkhasiat untuk kita.
Kenapa garam? Selain itu garam adalah sumber mineral, garam juga adalah penawar yang paling mujarab bagi keracunan, mengikut dokter di rumah sakit-rumah sakit, the first line of treatment for poisoning adalah dengan memberi Sodium Chloride, yaitu garam.
 Well, kita tinggalkan tentang perjalananku waktu ke Padang dan bahasan tentang  garam.

Temen-temen ingat tidak, waktu kita kecil. Kalau kita sakit dan pergi berobat ke dokter, apa yang diperiksa oleh dokter di rumah sakit atau di rumah tempatnya praktek? Kalau misalnya demam, dokter pasti memberikan thermometer pada kita, biasanya diletakkan di bawah ketiak atau di dalam mulut untuk dilihat berapa derajat suhu tubuh kita. Lalu dokter bisanya memeriksa dada kita atau perut kita dengan stetoskopnya. Setelah itu, kita disuruh dokternya untuk mengeluarkan lidah, melet-melet gitu hehhe. Ish.. kalau ingat tentang kisah melet ini. Saya punya cerita seru sama dokternya.

Dokter : “Coba, ‘aaaak” dokter biasanya memperagakannya untukku.
Saya    : “Saya kan ga musuhan sama dokter, ngapain  disuruh melet. Kan ga mau ngejek dokter. Biasanya aku melet kalau kesel sama temenku?” hahha. Anak kecil masih polos, unyu-unyu manis lagi hahhhha.
Dokternya pun senyum-senyum.

Back to lidah. Lidah merupakan panca indera yang kita miliki. Dari kecil pasti kita sudah akrab dengan yang namanya Panca Indera. Apa itu Panca Indera? Apa itu organ yang termasuk Panca Indera? Panca indera adalah lima indera yang terdiri dari mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, lidah untuk mengecap dan kulit untuk menerima rangsangan atau merasa. (Yaak pinterrr Sarah jawabnya hahhha). Kelima indera  itu ada pada diri kita semua. Kita harus mengucap syukur karena kita diberi panca indera yang lengkap,sempurna dan tanpa cacat. Itu semua kekuasaan Allaah atas penciptaanNya pada diri kita. Namun, ada saudara-saudara kita sebagian ada yang tidak memiliki lengkap panca inderanya. Sekali, alhamdulillaah bersyukur ya Rabb. Sehatkanlah kami semua. Aamiin.

Lidah bukan sembarang lidah. Setiap yang diciptakan Allaah semuanya terkandung hikmah dan manfaat bagi siapapun yang berfikir. Ternyata, kesehatan kita bisa dilihat dari kondisi lidah.

Lidah memang sangat bermanfaat untuk merasakan lezatnya makanan, ngobrol, bahkan untuk melihat kondisi kesehatan seseorang. Ya, baik atau buruknya kesehatan seseorang dapat dilihat dari kondisi lidahnya.

Dari awal yang aku ceritakan tadi bahwa dokter  akan mengamati keadaan lidah pasiennya. Itu karena ukuran, warna, dan tekstur alat pengecap itu memang dapat menunjukkan kondisi pasien.

Pengobatan tradisional China dan India pun kerap menggunakan lidah untuk mendiagnosa penyakit pasiennya. Sebuah luka di lidah bisa menandakan bahwa tubuh sedang kekurangan vitamin. Penyakit sianosis (kondisi paru-paru tidak mendapat cukup oksigen) pun dapat dilihat dari lidah. Gejala awal campak juga terlihat karena mereka muncul terlebih dahulu di lidah sebelum di kulit tubuh.

Berikut ini beberapa keadaan lidah yang perlu kita perhatikan untuk mendeteksi penyakit:

Permukaan.
Lidah yang botak tanpa tekstur pertanda Anda kekurangan zat besi atau anemia. Lidah berbintik besar berarti  rentan alergi. Lidah kering tanda bahwa kita sedang stress.

Bentuk
Lidah yang besar dan lebar jika diulurkan bisa menjadi gejala kondisi medis down syndrome, atau kretinisme.

Warna.
Tubuh yang sehat biasanya dilihat pada warna lidah yang merah muda cerah. Jika nampak warna gelap pada lidah, biasanya terjadi inflamasi di bagian tubuh. Pada kasus ekstrim, dapat melambangkan adanya kanker.

Jika nampak lapisan putih tebal di lidah, bisa disebabkan karena oversekresi empedu di hati dan kandung empedu. Jika lidah berwarna ungu atau biru, maka segeralah mencari pertolongan dokter karena itu tandanya ada konsumsi berlebih gula dan makanan olahan.

Mari jaga lidah kita. Bersihkanlah lidah selama menggosok gigi.

Maaf, tulisannya amburadul. Ditulis dalam terkantuk-kantuk. Kurang huruf atau kalimatnya yang ga mecing (matching) harap maklum. Besok kita edit lagi ya hehe. Atau ada yang bersedia mengedit monggo.

30 Januari, 23:23 WIB





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar