Selasa, 18 September 2012

SEBUAH NAMA UNTUKKU Part 1




SEBUAH NAMA UNTUKKU (1)

Aku terlahir dari sepasang orang tua yang baik. Ibuku bernama Siti Khadijah Semel, perempuan berdarah Minang, Melayu dan Jawa ini adalah perempuan yang lembut, sabar, baik , jarang marah dan tentunya pintar sekali memasak. Sedangkan Ayahku yang memiliki nama Bakri Imran. Lelaki asli berdarah Banjar, tepatnya Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Orangtuaku menikah pada tanggal 6 Maret 1983. Menurut  cerita mereka, sebelum menikah mereka mempunyai teman dekat masing-masing. Ibuku punya teman dekat lelaki berdarah Minang yang berasal dari keluarga mampu dan sangat terpandang sedangkan Ayah yang terkenal kegantengannya, humoris dan baik, banyak sekali perempuan yang menyukainya. Tetapi masing-masing tak mempunyai komitmen hanya sekedar teman dekat. Menurut mereka, dekat dengan lawan jenis pada zaman dahulu itu sangan elegan, melalui surat, berkirim salam dengan orang lain. Tak berani pergi kemanapun berdua. Apatah lagi saling menyentuh, begitulah ujar Ibu. Akan tetapi, Sekarang jika kita dekat dengan seorang   terutama lawan jenis, kebanyakan sangatlah melebihi batas. Trendnya sekarang dikatakan pacaran. Menyentuh kulit secara bebas, mencium sana-sini padahal belum tentu jadi suami ataupun istri. Bahkan yang parahnya sampai berzina, na’udzubillaahimindzalik.

Ayah dan Ibu bertemu langsung di rumah Ibu. Ibu adalah anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara dikeluarganya.  Ibu anak kedua. Di saat  umurnya masih dua tahun, Ibu sudah menjadi piatu karena Nenek meninggal setelah melahirkan adik laki-lakinya. Itu merupakan masa tersulit yang harus dialami kelurga Semel (nama Kakekku). Dengan keputusan yang paling berat, Kakek menyerahkan anak lelakinya yang masih bayi dengan keluarga dekat kami, sepasang suami istri yang baru memiliki satu anak perempuan. Kakek yakin, anak lelakinya bila diasuh perempuan yang bersuamikan ustadz, anaknya akan tumbuh menjadi anak yang shaleh dan sukses. Karena mengurus bayi pastilah butuh tangan seorang Ibu. Kakek juga tak perlu khawatir, karena kapanpun ia ingin melihat anaknya, ia pun bisa melakukannya. Walaupun ia menyerahkan anak bungsunya itu, tetapi ia tetap akan dipanggil Ayah. Kakek mengasuh dan membesarkan kedua anaknya. Anak laki-laki pertamanya dan Ibu sendiri dengan kasih sayang. Keduanya tumbuh menjadi anak-anak yang baik. Kakek tidak pernah menikah lagi sepeninggal Nenek, padahal menikah lagi banyak dilakukan oleh laki-laki yang kehilangan istri. Namun, tidak begitu bagi kakek, 20 tahun dia mengasuh anak-anaknya sendiri dan setia dengan Nenek. Ketika Ibuku berusia 22 tahun. Kakekpun pergi untuk selama-lamanya. Hembusan nafas terakhir yang disaksikan Ibu, sangat memilukan. Bagi Ibu, kakek adalah Ayah dan Ibunya selama ini. Karena kakek juga mengurusi mereka, memasakkan mereka setiap hari dari kecil dahulu. Kepergian kakek sangat meyedihkan. Namun kesedihan itu tak boleh larut.

Selepas meninggalnya Kakek, Ibu tinggal bersama Abangnya. Kemudian, dua orang sepupu laki-lakinya juga tinggal bersama di rumah sederhana Kakek. Kakek yang meninggalkan warisan berupa sawah dan ladang yang luas. Jadilah Abang beradik ini mengolah sawah dan ladang setelah Kakek meninggal. Sementara adik lelaki paling kecilnya, tumbuh menjadi orang yang berpendidikan. Dan bekerja menjadi PNS di Departemen Tenaga Kerja. Walau sudah menjadi orang sukses, adiknya tak pernah lupa akan Abang dan Kakaknya. Karena 
Pamanku itu sering mengunjungi mereka di rumah Ayahnya.

***

Tuhanlah yang menggerakkan langkah kemanapun tempat yang akan dituju. Hari ini Ayah berencana bersilaturahim ke rumah seorang Abang yang dianggapnya seperti saudaranya sendiri. Abang itu bernama Harun. Kebetulan Pak Harun bertetangga dengan Ibuku, hanya berjarak 5 rumah saja. Pak Harun dan Ayah sering bertukar fikiran dan mengobrol tentang apapun. Ntah mengapa, obrolan mereka sampai pada bahasan tentang Jodoh. Memilih wanita untuk dijadikan istri. Pak Harun langsung bercerita tentang Ibuku. “Di daerah ini, ada seorang perempuan yang manis. Baik akhlaknya dan pintar sekali memasak. Namun dia sudah yatim piatu dan tinggal bersama seorang abang kandung dan  dua orang sepupu laki-lakinya. Dia dari keluarga yang baik-baik di daerah ini. Jika kau ingin melihat gadis itu, bertamulah ke rumahnya. Manatahu jodoh, aku sangat mendukung tentang itu” Pak Harun mengatakan sambil tertawa lepas.

Entah mengapa, Ayah begitu penasaran dengan gadis yang diceritan Bang Harun. Keesokan harinya ia kembali mengunjungi Bang Harun. Secara gentlemen (hehhee), Ayah datang ke rumah Ibu sendiri tanpa ditemani siapapun. Ayah disambut oleh seorang laki-laki, sepupu Ibu dengan ramah,  Sepupu Ibu mempersilahkan Ayah masuk dan duduk di kursi yang terbuat dari kayu Jepara. Ibu yang tak pernah tahu sebenarnya apa maksud kedatangan Ayah waktu itu, sebagai perempuan satu-satunya di rumah , Ia selalu melayani siapapun tamu yang datang ke rumah. Ibu cerita padaku, bahwa saat itu. Ia menganggap Ayah adalah teman sepupunya. Ibu membuat dua gelas teh manis panas dan sepiring pisang goreng dan menghidangkan di atas meja ruang tamu. Momen meletakkan teh manis panas inilah, awal pertama Ayah menatap Ibu. Dan, begitulah Tuhan mengatur. Ayah langsung menyukai Ibu, ketika pertama kali memandang. Sedangkan Ibu, Pertama berjumpa Ayah, perasaan Ibu biasa-biasa saja. Karena sudah biasa dikelilingi oleh laki-laki, baik abang ataupun sepupunya. Ibu tidak pernah risih jika bertemu dengan laki-laki yang dikenalnya apalagi salah tingkah dan malu-malu. Namun, kata Ibu. Ibu menganggap bahwa Ayah termasuk lelaki yang tampan yang datang ke rumahnya. “Lelaki itu, Ayahmu punya kulit yang putih bersih” Ujar Ibu padaku.
Rasa suka sudah mulai bersemayam di hati Ayah. Kemudian terbesit untuk mengenal Ibu lebih jauh lagi. Ibu juga mengenal Ayah sebagai laki-laki yang sopan, baik dan humoris. Pintar mengobrol. Ayah tidak langsung mendekati Ibu akan tetapi ia lebih dahulu mendekati keluarganya, Abang-abangnya. Kemudian mulai mengajak Ibu ngobrol, bercerita tentang apa saja. Tiga bulan, Ayah melakukan itu. Mendekati Ibu dan keluarganya. Ayah yang ramah dan pintar membawa diri. Diterima keluarga Ibu dengan baik dan menjadi teman bagi anggota keluarga Ibu. Sampai akhirnya, Pak Harun datang ke rumah Ibu dan menyampaikan niat Ayahku untuk meminang Ibu dan dijadikan sebagai istri. Pak Harun mengenal keluarga Ayah. Pak Harun juga mengatakan bahwa Ayah adalah laki-laki yang baik. Karena wali Ibu adalah Abangnya sendiri, Abangnya, Paman, Bibi dan keluaga yang dituakan menyerahkan keputusan itu sepenuhnya kepada Ibu. Walau saat ini, sebenarnya Ibu mempunyai teman dekat tetapi teman dekatnya belum berniat untuk melamarnya. Ibu sempat bingung juga. Di satu sisi dia juga menganggap Ayah adalah laki-laki yang baik. Sangat diterima oleh keluarga besarnya dan memiliki wajah yang tampan (hehhe). Dan perkenalannya selama tiga bulan ini, sudah cukup baginya untuk menilai Ayah, Ayah lelaki yang baik dimatanya.

Ibu sempat bingung, apa yang harus ia lakukan, namun ada seorang Mak Cik dari keluarga Ayahnya (adik kandung kakek), mengatakan bahwa “Apalagi yang kau ragukan jikalau ada lelaki baik yang berniat tulus untuk menjadikanmu istri, dia yang pertama. Amat pantang, menolak laki-laki baik anakku. Semoga Tuhan akan memberkahi keluargamu kelak. Itu doa Mak Cik untukmu. Jikalau engkau bersedia menerima pinangannya”. Perkataan itu juga menguatkan Ibu, untuk menerima niat baik Ayah. Ya, Tuhan punya rencana untuk Ibu dan Ayahku dimasa datang.

Keluarga besar Ayahpun datang ke rumah Ibu. Mereka Jauh-jauh datang dari Kisaran (Kebetulan keluarga Ayah sudah tiga generasi tinggal di Kisaran, merantau dari Kalimantan. Walau sampai saat ini keluarga besarnya masih banyak sekali yang tinggal di Kalimantan). Ayah, juga sudah menjadi yatim sama seperti Ibu. Ditinggal Ayahnya, sejak masih usia belasan tahun. Beruntung, Ayah punya banyak saudara dan Ibu yang tangguh, nenekku. Kedua pihak keluargapun menyepakati pada tanggal 6 Maret 1983 dijadikan sebagai hari pernikahan Ayah dan Ibu.

***

Tanggal 6 Maret 1983, merupakan hari bersejarah bagi Ayah dan Ibu. Setelah Akad, Ibu pun sangat mencintai Ayah. Begitupun Ayah yang memang dari awal sudah mencintai Ibu dari pertama kali ia menatap Ibu, akhirnya ia bisa memperistri perempuan manis itu dengan cara yang baik. Syukurnya kepada Rabb.

Pada tahun 1984, Ibu melahirkan anak pertamanya. Seorang perempuan cantik, Ialah kakakku. Beberapa tahun kemudian. Ibu melahirkan Aku, putri kecil yang mungil, berkulit putih sama seperti Ayah dan punya hidung yang bangir. Kata Ibu, ketika aku lahir. Ayah memperoleh rezeki yang berlimpah. Masa itu adalah masa-masa dimana Ayah dan Ibu  bisa menabung dan berencana membuat rumah sederhana di depan rumah Kakek. Semenjak aku di kandungan. Ibu mempunyai kesempatan memeriksakan kandungannya secara gratis di rumah sakit yang merupakan mitra perusahaan Ayah. Di rumah sakit ini, Ibu bertemu dengan seorang dokter kandungan yang berdarah Jepang. Dokternya sangat baik. Waktu aku kecil dahulu, Ibu sering bercerita tentang dokter yang baik ini. Pertama sekali juga aku mengenal Negara Jepang dari cerita Ibu. Makanya dari kecil sampai sekarang aku sangat menyukai Jepang hehhe. Kebudayannya yang unik, membuat aku tertarik.

Dan, Tentang sebuah nama untukku….

Kata Ibu, aku lahir tepatnya pada bulan maulid. Ayah dan Ibu sempat bingung juga, nama apa yang harus diberikan kepada putri kecilnya ini. Ayah dan Ibu sempat membuat beberapa daftar nama. Walau begitu, entah mengapa belum ada satu namapun yang pas di hati mereka. Ibu bilang ada beberapa nama yang masuk ke dalam daftar pilihan nama. Adapun beberapa nama itu adalah:
1. Maulidyana, karena aku lahir di bulan Maulid.
2. Maulidyani, karena aku lahir di bulan Maulid hanya beda huruf i dengan nama pertama.
3. Maulia, karena Ibu suka dengan nama ini.
4. Khairiyah, karena aku lahir di bulan yang baik.
5. Muliani, karena aku lahir di bulan mulia yakni bulan dimana Rasulullaah dilahirkan.
6. Keiko, karena sempat ditangani oleh dokter Jepang yang artinya Suatu Pujian.
7. Putri, karena aku lahir di Rumah Sakit Putri Hijau, Medan. Putri adalah nama yang paling banyak disematkan bagi anak-anak perempuan di Indonesia hehhe.

***

Tibalah hari aqiqahan, penabalan nama untukku. Ayah dan Ibu masih bingung nama apa yang mereka harus pilih, padahal pemberian nama Kakakku tidak sesulit ini.  “Sudahlah, kita lihat nanti nama mana yang kita pilih dan kita sebutkan pertama kali Bang” ujar Ibu kepada Ayah. Saudara banyak yang hadir di acara aqiqahan. Om, tante, paman, bibi, uwak dan banyak saudara lainnya, saudara dekat kami hadir di acara aqiqahanku. Sampai detik-detik penabalan namaku pun Ibu masih bingung ckckkc. Akhirnya, ada seorang Abang sepupu Ibu, Uwakku yang terkenal shalih. Wak Sayuti namanya, bertanya “Siapa nama yang akan diberikan kepada anak perempuanmu ini?”. Ibupun menjawab “entahlah Bah (Ibu memanggilnya dengan sebutan Abah). Kami bingung memberi nama untuk anak kami ini”. Dengan tersenyum, ia melihatku. Bayi kecil putih yang baru berumur dalam hitungan hari itu. “Sudahlah, beri saja ia nama “Maysarah”. Abah kira nama itu, cocok untuknya. Semoga ia menjadi anak cerdas dan sabar” Entah angin darimana Ayah dan Ibu langsung klik dengan nama itu. Mereka berdua melupakan 7 daftar nama yang telah mereka buat. Nama yang dipilih, menjelang detik-detik penabalan nama oleh ustdaz. Dihadapan ustadz, sambil menggendongku dan didampingi oleh Ibu. Dengan mantab, Ayah menjawab pertanyaan ustadz “Siapa nama yang akan diberikan untuk putrimu?”…”Maysarah Binti Bakri ustadz”.

***
Sampai saat ini, nama itu belum mengalami perubahan sedikitpun. Maysarah Bakri anak Ayah dan Ibu. Nama yang membuatkua mempunyai nama panggilan yang lumayan banyak. Orang memanggilku dengan sapaan Sarah, May, Memey, Mey, Maysa, Ra, Sa, Sar (ini karena ada penyakit SARS yang melanda China pada waktu itu) dan teman-teman kuliahku memanggilku dengan sapaan “teteh” karena rada mirip dengan istri Aa Gym (hahha, ga bener banget yang ini). Apapun sapaannya, diantara itu aku paling suka dipanggil dengan nama “Sarah”. Alhamdulillaah semenjak kecil banyak sekali prestasi yang diraih. Aku selalu membahagiakan Ayah dan Ibu karena waktu SD dari kelas 1 sampai kelas 6, selalu mempersembahkan juara I. Begitu juga SMP selalu mempersembahkan 3 besar dan ketika melanjutkan SMA favorit di Kota Medan dan berkumpul dengan anak-anak cerdas, aku hanya bisa mempersembahkan ranking 10 besar. Namun, alhamdulillaah ketika aku lulus di Perguruan Tinggi Nasional, Universitas Sumatera Utara. Selama kuliah, aku dibiayai oleh Universitas karena memperoleh prestasi dan bisa selalu mempertahankan IPK di atas 3,00. Dan menjelang tugas akhir dan skripsi, aku juga memperoleh Beasiswa Research dari Tropical Rain Forest Coffee Team Taiwan 2008-2009. Sepeserpun aku tidak mengeluarkan biaya untuk penelitianku. Beasiswa yang diberikan, bahkan lebih karena mereka memberi dalam hitungan US Dollar. Dan hal itu sangat membahagiakan orang tuaku, karena kami adalah keluarga yang sangat sederhana.

Setelah wisuda aku masih bekerja di Laboratorium Mikrobiologi USU, sebagai asisten Laboratorium dan mengajar privat sambil berdagang kecil-kecilan. Ketika masih menjadi asisten Lab, aku direkomendasikan untuk mengajar di salah satu sekolah swasta di Medan. Sekolah multi etnis. Padahal waktu pertama sekali ditawari menjadi pendidik, aku menolak. Namun Ibu, mengatakan ambilah kesempatan Itu. Karena menjadi Guru adalah pekerjaan yang mulia. Aku sangat penurut dengan Ibu, akhirnya kuterima juga tawaran itu padahal sudah beberapa kali istikharah keputusan juga tidak mantab, hati tetap menolak menjadi guru. Namun, berkat doa orangtua terutama Ibu, Guru adalah pekerjaan yang sangat aku jiwai saat ini. Sampai sekarang, aku sangat menikmati pekerjaanku menjadi seorang pendidik. Bertemu dengan anak-anak yang mempunyai sepasang bola mata yang bening-bening, polos dan menenangkan. Keinginanku untuk menjadi Peneliti, laboran di salah satu Lembaga Penelitian hari ini belum terwujud. Aku beberapa kali gagal tes mengikuti di beberapa Lembaga Penelitian, BPOM, PPKS, LIPI dan lain-lain. Niatku, untuk mengikuti S2  juga harus berhenti sejenak, karena Ibu tidak memberiku izin sebelum aku menikah. Lagi-lagi, aku menuruti perkataan Ibu, aku tahu semua yang dikatakan Ibu pasti baik untuk kebaikan ku. Yakinlah, Orangtua adalah sumber ketenangan dalam hidup ini. Jika kita memuliakannya, Allaah juga selalu memperhatikan kita. I am Happy Today :)

Dan tentang sebuah nama untukku, Maysarah Bakri. Semoga aku bisa membawa nama ini untuk kebaikan sampai akhir hayatku kelak. Aamiin….
Medan, 18 September 2012
-Maysarah Bakri-